PROFIL BATUAN
KEPULAUAN NATUNA
Kepulauan Riau dan perairan Natuna Barat
di Laut Cina Selatan pada posisi geografi 0°- 4° LU dan 102° -108° BT. Secara
geografis dan strategis termasuk wilayah Propinsi Kepulauan Riau yang
berbatasan dengan negara-negara tetangga dan juga merupakan jalur lintas
pelayaran internasional. Kegiatan kompilasi ini merupakanupaya pengumpulan dan
integrasi data geologi dan geofisika kelautan baik data primer maupun sekunder,
serta analisis prospektif dalam kaitannya dengan aspek energi dan sumber daya
mineral.
Selain itu kegiatan kompilasi ini
diharapkan juga dapat membantu kebutuhan data informasi energi dan sumber daya
mineral kelautan secara regional yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan
ekonomi nasional dan daerah. Penyajian data kompilasi akan menggunakan metoda
Sistem Informasi Geografi (SIG), yaitu memadukan hasil Pemetaan Dasar dengan
inventarisasi sumber daya alam, sehingga manajemen data-nya meliputi penyediaan
data, pengelolaan, analisis, evaluasi, pemeliharaan dan perencanaan, yang
diharapkan dapat membantu dalam memantapkan arah pengambilan keputusan.
Secara geologi, Kepulauan Riau (Pulau
Karimun, Barelang dan Bintan) merupakan perwujudan dari daratan Sunda
(Sundaland), dengan Laut Natuna bagian timulaut termasuk ke dalam sub‑sistem
tepian bagian baratlaut Laut Cina Selatan (LCS). Secara stratigrafi kepulauan
ini didominasi oleh zona batuan beku granit plutonik berumur Trias Akhir.
Keberadaan batuan granitik ini menghasilkan batuan rombakan berupa batuan
sedimen kaya kuarsa (dikenal sebagai batupasir kuarsa, Tersier Bawah), yang
menutupi hampir sebagian besar paparan Sunda dan Kepulauan Riau. Sedangkan di Laut
Natuna berkembang dua cekungan Sedimentasi Tersier yang kaya minyak dan gas
(MIGAS), yaitu Cekungan Natuna Barat (West Natuna Basin) dan Cekungan Natuna
Timur (East Natuna Basin), yang dipisahkan oleh sistem Punggungan Natuna
(Natuna Arch) berarah utara‑selatan yang membentuk Kepulauan Natuna Morfologi
Kepulauan Riau dibentuk akibat erosi arus laut pada batuan granit sehingga
memnbentuk suatu tonjolan bahkan dataran.

Gambar Peta Geologi Pulau
Natuna dan Pulau Laut
Morfologi dasar laut yang berkembang
relatif sedang sampai dalam, di sekitar pulau-pulau pola kontur mengikuti pola
garis pantai melingkar dengan morfologi yang landai ditunjukan oleh garis
kontur yang tidak renggang, di bagian tengah membentuk kontur terbuka yang
semakin terjal dan dalam ke arah utara. Daerah ini dimanfaatkan sebagai alur pelayaran
internasional yang banyak dilalui kapal-kapal berukuran besar Secara umum
sedimen dasar laut Kepulauan Riau didominasi oleh pasir kuarsa berukuran sedang
hingga kerikil yang berasal dari darat dan pasir mengandung pecahan cangkang
foram yang berasal dari laut.
Geologi Regional
Pulau Laut- Sekatung yang
terletak pada 04°48’ - 04°,39’ Lintang Utara dan 107°54’ -108°03’
Bujur timur. Secara administratif kawasan
tersebut termasuk kedalam
wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Gambar 1). Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni – Juli 2011 yang dibiayai
oleh anggaran Puslitbang
Geologi Kelautan.

Gambar Kawasan Pulau Laut-Sekatung
Salah satu pengelolaan kawasan pulau terdepan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu
berupa inventarisasi data geologi kelautan. Kebijaksanaan umum dalam
pengelolan secara terpadu kawasan Kepulauan Bravo (Pulau Laut-Sekatung) sebagai
titik batas terluar merupakan hal mutlak yang perlu diupayakan. Pulau
Laut-Sekatung masuk daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia (PP No 38 Tahun 2002 Tanggal 28 Juni 2002), dengan Titik
Dasar No. TD.030. Kebijaksanaan umum
dalam pengelolaan secara terpadu kawasan Pulau Laut-Sekatung sebagai titik batas terluar
merupakan hal mutlak yang perlu diupayakan. Untuk
pengelolaan wilayah yang tertata dengan baik, maka data potensi sumber daya alam ini perlu diindentifikasi dan diinventarisasi secara rinci. Untuk
menunjang pengelolaan tersebut maka diperlukan suatu penelitian
secara rinci tentang potensi sumber daya geologi, baik itu di darat maupun di
laut. Tujuan penelitian untuk
menghimpun data karakteristik pantai Pulau
Laut-Sekatung sebagai salah satu upaya pengelolaan kawasan pulau
terdepan NKRI.
Pulau Laut dan Pulau Sekatung
disusun oleh satu satuan stratigrafi, yaitu Formasi Bunguran (Haile., 1970; Hakim
dan Suryono., 1994). Formasi Bunguran di daerah telitian tersusun oleh rijang
yang berwarna putih kemerahan dan merah kecoklatan dalam kondisi segar (fresh)
dan berwarna coklat kehitaman dalam keadaan lapuk. Batuan rijang tersusun oleh mineral
silika amorf yang pejal (masive) (Gambar 2). Di samping mempunyai
struktur sedimen lapisan terpilin setempat, lapisan rijang ini berselingan
dengan batulempung silikaan dan batulanau silikaan.
Formasi Bunguran
yang tersingkap di Pulau
Laut dan Pulau Sekatung ini merupakan bagian dari geologi Kepulauan Natuna Besar (Gambar 3). Dalam
urutan tratigrafi, Formasi Bunguran
merupakan kompleks batuan alas, yang diduga berasal dari endapan laut dalam
yang berumur Jura-Kapur. Di bagian
lain Kepulauan Natuna Besar, Formasi Bunguran (JKb) berhimpun dengan Batuan Mafik &
Ultramafik (Mu) dan
Amfibolit & Sekis
Hornblenda (Ma) yang berumur Yura, dan diduga ketiganya
merupakan bagian dari runtunan
ofiolit. Pada kompleks batuan
alas ini juga ditemukan Granit Ranai (Kgt) yang berumur Kapur, yang
diduga merupakan batuan terobosan akibat peretakan (rifting) (Suryono., 2005). Secara takselaras Formasi Bunguran ditindih oleh Batupasir
Pengadah (Tomp) yang berumur Oligosen-Miosen Tengah dan Batupasir Raharjapura (Tmpr)
yang berumur Miosen
Atas- Pliosen. Kemudian secara tidak selaras di atas satu-satuan itu terendapkan Aluvium
Resen .

Gambar Satuan Rijang
(Formasi Bunguran) berlapis yang ditemukan di utara Pulau Laut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar