Minggu, 16 Juni 2019

PROFIL BATUAN KEPULAUAN NATUNA


PROFIL BATUAN KEPULAUAN NATUNA


Kepulauan Riau dan perairan Natuna Barat di Laut Cina Selatan pada posisi geografi 0°- 4° LU dan 102° -108° BT. Secara geografis dan strategis termasuk wilayah Propinsi Kepulauan Riau yang berbatasan dengan negara-negara tetangga dan juga merupakan jalur lintas pelayaran internasional. Kegiatan kompilasi ini merupakanupaya pengumpulan dan integrasi data geologi dan geofisika kelautan baik data primer maupun sekunder, serta analisis prospektif dalam kaitannya dengan aspek energi dan sumber daya mineral.
Selain itu kegiatan kompilasi ini diharapkan juga dapat membantu kebutuhan data informasi energi dan sumber daya mineral kelautan secara regional yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi nasional dan daerah. Penyajian data kompilasi akan menggunakan metoda Sistem Informasi Geografi (SIG), yaitu memadukan hasil Pemetaan Dasar dengan inventarisasi sumber daya alam, sehingga manajemen data-nya meliputi penyediaan data, pengelolaan, analisis, evaluasi, pemeliharaan dan perencanaan, yang diharapkan dapat membantu dalam memantapkan arah pengambilan keputusan.
Secara geologi, Kepulauan Riau (Pulau Karimun, Barelang dan Bintan) merupakan perwujudan dari daratan Sunda (Sundaland), dengan Laut Natuna bagian timulaut termasuk ke dalam sub‑sistem tepian bagian baratlaut Laut Cina Selatan (LCS). Secara stratigrafi kepulauan ini didominasi oleh zona batuan beku granit plutonik berumur Trias Akhir. Keberadaan batuan granitik ini menghasilkan batuan rombakan berupa batuan sedimen kaya kuarsa (dikenal sebagai batupasir kuarsa, Tersier Bawah), yang menutupi hampir sebagian besar paparan Sunda dan Kepulauan Riau. Sedangkan di Laut Natuna berkembang dua cekungan Sedimentasi Tersier yang kaya minyak dan gas (MIGAS), yaitu Cekungan Natuna Barat (West Natuna Basin) dan Cekungan Natuna Timur (East Natuna Basin), yang dipisahkan oleh sistem Punggungan Natuna (Natuna Arch) berarah utara‑selatan yang membentuk Kepulauan Natuna Morfologi Kepulauan Riau dibentuk akibat erosi arus laut pada batuan granit sehingga memnbentuk suatu tonjolan bahkan dataran.
Gambar Peta Geologi Pulau Natuna dan Pulau Laut

Morfologi dasar laut yang berkembang relatif sedang sampai dalam, di sekitar pulau-pulau pola kontur mengikuti pola garis pantai melingkar dengan morfologi yang landai ditunjukan oleh garis kontur yang tidak renggang, di bagian tengah membentuk kontur terbuka yang semakin terjal dan dalam ke arah utara. Daerah ini dimanfaatkan sebagai alur pelayaran internasional yang banyak dilalui kapal-kapal berukuran besar Secara umum sedimen dasar laut Kepulauan Riau didominasi oleh pasir kuarsa berukuran sedang hingga kerikil yang berasal dari darat dan pasir mengandung pecahan cangkang foram yang berasal dari laut.
Geologi Regional
Pulau Laut- Sekatung yang terletak pada 04°48’ - 04°,39’ Lintang Utara dan 107°54’ -108°03’ Bujur timur. Secara administratif kawasan tersebut termasuk kedalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Gambar 1). Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni Juli 2011 yang dibiayai oleh anggaran Puslitbang Geologi Kelautan.
Gambar Kawasan Pulau Laut-Sekatung

Salah satu pengelolaan kawasan pulau terdepan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu berupa inventarisasi data geologi kelautan. Kebijaksanaan umum dalam pengelolan secara terpadu kawasan Kepulauan Bravo (Pulau Laut-Sekatung) sebagai titik batas terluar merupakan hal mutlak yang perlu diupayakan. Pulau Laut-Sekatung masuk daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia (PP No 38 Tahun 2002 Tanggal 28 Juni 2002), dengan Titik Dasar No. TD.030. Kebijaksanaan umum dalam pengelolaan secara terpadu kawasan Pulau Laut-Sekatung sebagai titik batas terluar merupakan hal mutlak yang perlu diupayakan. Untuk pengelolaan wilayah yang tertata dengan baik, maka data potensi sumber daya alam ini perlu diindentifikasi dan diinventarisasi secara rinci. Untuk menunjang pengelolaan tersebut maka diperlukan suatu penelitian secara rinci tentang potensi sumber daya geologi, baik itu di darat maupun di laut. Tujuan penelitian untuk menghimpun data karakteristik pantai Pulau Laut-Sekatung sebagai salah satu upaya pengelolaan kawasan pulau terdepan NKRI.
Pulau Laut dan Pulau Sekatung disusun oleh satu satuan stratigrafi, yaitu Formasi Bunguran (Haile., 1970; Hakim dan Suryono., 1994). Formasi Bunguran di daerah telitian tersusun oleh rijang yang berwarna putih kemerahan dan merah kecoklatan dalam kondisi segar (fresh) dan berwarna coklat kehitaman dalam keadaan lapuk. Batuan rijang tersusun oleh mineral silika amorf yang pejal (masive) (Gambar 2). Di samping mempunyai struktur sedimen lapisan terpilin setempat, lapisan rijang ini berselingan dengan batulempung silikaan dan batulanau silikaan.
Formasi Bunguran yang tersingkap di Pulau Laut dan Pulau Sekatung ini merupakan bagian dari geologi Kepulauan Natuna Besar (Gambar 3). Dalam urutan tratigrafi, Formasi Bunguran merupakan kompleks batuan alas, yang diduga berasal dari endapan laut dalam yang berumur Jura-Kapur. Di bagian lain Kepulauan Natuna Besar, Formasi Bunguran (JKb) berhimpun dengan Batuan Mafik & Ultramafik (Mu) dan Amfibolit & Sekis Hornblenda (Ma) yang berumur Yura, dan diduga ketiganya merupakan bagian dari runtunan ofiolit. Pada kompleks batuan alas ini juga ditemukan Granit Ranai (Kgt) yang berumur Kapur, yang diduga merupakan batuan terobosan akibat peretakan (rifting) (Suryono., 2005). Secara takselaras Formasi Bunguran ditindih oleh Batupasir Pengadah (Tomp) yang berumur Oligosen-Miosen Tengah dan Batupasir Raharjapura (Tmpr) yang berumur Miosen Atas- Pliosen. Kemudian secara tidak selaras di atas satu-satuan itu terendapkan Aluvium Resen .
Gambar Satuan Rijang (Formasi Bunguran) berlapis yang ditemukan di utara Pulau Laut.

Dalam kerangka tektonik regional, gugusan Kepulauan Natuna Besar termasuk ke dalam jalur Natuna yang merupakan jalur magmatik Jaman Kapur (Katili., 1973). Daerah ini disebut Tinggian Alas Natuna (Natuna Basement High) yang memisahkan Cekungan Natuna Timur di sebelah timur dan Cekungan Natuna Barat di sebelah barat (Wongsosantika drr.,1984)